Pemkot Jakut bentuk ormas penggerak kampung tanggap terhadap sampah

Jakarta – Pemerintah Kota Jakarta Utara membentuk organisasi masyarakat (ormas) penggerak Kampung Iklim yang tanggap terhadap sampah pencemaran lingkungan melalui Program Kampung Lingkungan (ProKlim).

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Utara Achmad Hariyadi mengatakan saat ini sudah terdapat 52 ProKlim di Jakarta Utara, melebihi jumlah kelurahan yang hanya 31.

“Di Jakarta Utara sudah 52 Kampung Iklim dari berbagai tingkatan, tingkat nasional, tingkat provinsi, dan tingkat kota,” kata Hariyadi saat ditemui wartawan di Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, Kamis.

Di lokasi yang sama, Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (Sudin KPKP) Jakarta Utara Unang Rustanto mengatakan salah satu organisasi masyarakat penggerakan Kampung Iklim yang dibentuk itu berada di Kelurahan Tugu Utara tepatnya RW01 yang menggerakkan 10 RT untuk tanggap terhadap pencemaran lingkungan.

“Jadi RW01 ada 10 RT yang digerakkan oleh setiap penggiat lingkungan beranggotakan kurang lebih sekitar 30 orang. Itu dibentuk kelompok-kelompok, ada ketuanya, sekretaris, bendahara, yang mana dalam organisasi itu mempunyai tanggung jawab masing-masing,” kata Unang.

Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Lubricants Rifqi Budi Prasetyo mengatakan pihaknya berpartisipasi bersama pemerintah, dalam hal ini Wali Kota, warga, dan swasta dalam mendukung program untuk adaptasi dan mitigasi lingkungan, termasuk ketahanan pangan di RW01 Tugu Utara tersebut mulai tahun 2022 ini.

Harapannya, dukungan tersebut bisa terus diberikan minimal sampai lima tahun mendatang.

“Tahun ini kami sudah memberikan bantuan Rp180 juta, saat ini akan berkesinambungan terus minimal lima tahun,” kata Rifqi.

Adapun dukungan yang sudah diberikan PT Pertamina Lubricants sebagai program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan tersebut adalah pemberian bantuan sarana pelatihan Bank Sampah agar ProKlim bisa berjalan berkesinambungan.

Bank Sampah diperlukan sebagai bagian dari mitigasi penumpukan sampah. Terutama sampah organik yang kalau ditumpuk bisa mengikis lapisan ozon di udara dan mencemari saluran air di sekitarnya dengan bakteri.

Selanjutnya, pihaknya juga sedang berupaya mengembangkan ketahanan pangan di RW01 Tugu Utara tersebut melalui budidaya tanaman obat keluarga, anggur, dan sebagainya.

“Tahun lalu kami kembangkan juga di Tugu Selatan, di sana ada Kampung Sirih Sehati, program tukar sampah dengan oli, dan sebagainya ya. Sekarang kami meluaskan ke Tugu Utara dengan Kampung Anggur,” kata Rifqi.

Achmad Hariadi melanjutkan, pembuangan limbah organik secara sembarangan hingga menumpuk memang berpotensi memunculkan berbagai dampak terhadap lingkungan, seperti air yang tercemar oleh bakteri E Coli maupun pengikisan lapisan ozon di udara.

“Baunya ini menimbulkan gas metana atau CH4, itu berpengaruh terhadap lapisan ozon akan berkurang. Kemudian kalau ada hujan, mengalir bisa menyebabkan pencemaran air juga,” kata Hariadi.

Limbah inilah yang mesti dikelola dengan baik oleh organisasi masyarakat penggerak Kampung Iklim yang sudah dibentuk di Jakarta Utara agar tidak berdampak kepada generasi mendatang termasuk menghambat pertumbuhan anak atau tengkes.

“Makanya kami juga mengusulkan kepada Pertamina Lubricants, Bank Sampah bukan hanya mengolah sampah anorganik saja, tapi sampah organik pun juga penting diolah. Karena sumber perubahan iklim itu adalah sampah organik, karena baunya ya,” pungkas Hariadi. (Ant)