Banjir Kembali Sambangi Jakarta

Jakarta,  – Banjir tampaknya masih sangat lekat dengan Jakarta dan entah sampai kapan persoalan itu akan dapat dituntaskan.

Banjir di beberapa lokasi di DKI Jakarta pada Sabtu (8/2) merupakan kejadian kedua kalinya selama kurun waktu 2020. Di beberapa lokasi justru yang ketiga kalinya.

Berapakalipun banjir, dampaknya tetap sama, yakni kerugian materi di pihak warga yang terdampak dan kesibukan atau kerepotan aparat terkait menanganinya. Warga yang tidak terdampak secara langsung pun harus merasakannya karena terkendala dalam aktivitasnya akibat jalan tergenang.

Kalau melihat kronologinya, potensi banjir kali ini telah diprediksi sejak Jumat (7/2) sore. Hal itu berdasarkan tingginya curah hujan di wilayah Bogor (Jawa Barat), disamping curah hujan yang mengguyur Jakarta sepanjang hari itu.

Pada pukul 21.15 WIB disampaikan informasi kepada publik bahwa tinggi permukaan air di Bendung Katulampa Bogor mencapai 100 sentimeter. Dengan ketinggian permukaan air itu maka Jakarta masuk Siaga III Banjir.

Pukul 21.30 WIB, disampaikan lagi informasi perkembangan situasi dan kondisi dari Katulampa bahwa debit air naik dengan ketinggian air mencapai 110 sentimeter. Saat itu wilayah Puncak dan Bogor masih diguyur hujan.

Rentang Waktu
Dalam kurun waktu enam sampai sembilan jam setelah informasi perkembangan itu, luapan air dari Katulampa akan sampai di wilayah Jakarta. Prediksi itu berdasarkan fakta selama ini mengenai rentang waktu antara kondisi di Katulampa dengan perkiraan kondisi di Jakarta.

Adanya rentang waktu tersebut merupakan kesempatan paling tepat bagi warga untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan air. Tinggal melihat seberapa tinggi air Ciliwung apakah akan meluap dan merangsek ke permukiman atau tidak.

Tanda-tanda banjir kemudian disampaikan dalam bentuk imbauan oleh jajaran terkait di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.Suku Dinas (Sudin) Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan, misalnya, langsung menyampaikan perkembangan mengenai naiknya debit air di Sungai Ciliwung ke masyarakat.

Imbauannya jelas, yakni masyarakat di bantaran Sungai Ciliwung harus segera mempersiapkan diri akan datangnya banjir. Sedangkan untuk mengantisipasi dan mengatasi banjir, pasukan biru telah disiagakan. di lokasi-lokasi yang potensial banjir.

Pasukan biru merupakan petugas yang harus memantau genangan kemudian sesegera mungkin melakukan tindakan agar selokan dan drainase dapat mengalirkan air secara cepat. Pasukan ini juga segera bertindak apabila ada selokan atau drainase yang tersumbat sampah.

Selain itu memastikan pompa air bekerja secara optimal untuk menyedot dan memompa air yang menggenang. Tampak jelas kerja keras yang harus mereka lakukan dalam situasi seperti itu.

Petugas Pemadam Kebakaran Jakarta Timur mengevakuasi balita dan anak-anak yang terjebak banjir di kawasan Kramat Jati, Sabtu (9/2/2020).

Terjadi
Kekhawatiran terjadinya banjir lagi di DKI Jakarta benar-benar terjadi di sejumlah lokasi. Pada Sabtu pagi, berdasarkan data dari Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Jakarta Timur setidaknya 11 lokasi di wilayah setempat terendam banjir dengan ketinggian bervariasi.

Salah satu lokasi yang terendam adalah pertokoan di Jalan Jatinegara Barat dengan ketinggian air sekitar 40 sentimeter. Penyebabnya adalah luapan Ciliwung sejak Sabtu pagi.

Di Jakarta Selatan, beberapa lokasi juga tergenang banjir. Salah satunya di Kemang dengan genangan bervariasi, dari 30 hingga 70 sentimeter.

Posko banjir Jakarta mencatat intensitas hujan yang cukup tinggi pada Sabtu (8/2) dini hari menyebabkan enam kecamatan di Jakarta Utara terdampak banjir. Genangan banjir itu tersebar di enam kecamatan, 10 kelurahan, 31 RW dan enam RT, dengan ketinggian air 10-45 sentimeter.

Genangan air juga terjadi di kawasan Ancol. Pada pukul 12.00 WIB, ketinggian air sekitar 15-30 sentimeter menggenangi pintu masuk kawasan wisata Ancol sehingga pengunjung mengurungkan niatnya untuk menikmati akhir pekan di kawasan itu.

Pemerintah setempat melakukan penanganan menggunakan pompa dari Dinas Sumber Daya Air dan pompa milik kelurahan dan bantuan PPSU. Kerja keras pihak terkait memompa air serta mempercepat aliran air ke drainase dan tali-tali air menyurutkan genangan.

Drainase
Sejumlah warga terdampak genangan dan petugas di lapangan mengemukakan, banjir kali ini umumnya karena luapan kali dan saluran air (drainse) yang kelebihan kapasitas daya tampung. Cuaca Jakarta yang hujan juga ikut menambah beban drainase dan debit air di kali.

Genangan di permukiman dan pertokoan di Jalan Jatinegara Barat diduga akibat luapan Ciliwung. Luapan itu menyebabkan aliran air dari drainase yang semestinya masuk Ciliwung justru berbalik. Luapan Ciliwung kemudian menyebabkan genangan di permukiman, jalan dan pertokoan.

Persoalan kapasitas drainase dan tali-tali air tampaknya perlu menjadi perhatian serius. Pondok Kelapa dan Duren Sawit dan Cipinang Melayu, misalnya, sebenarnya merupakan wilayah yang tidak jauh dari Banjir Kanal Timur (BKT), tetapi masih terdapat genangan.

Sejak dibangun hingga saat ini, belum pernah ada cerita bahwa BKT meluap. BKT membentang dari Cipinang Cempedak ke arah timur melintasi Cakung, Pulo Gadung hingga ke arah utara, Teluk Jakarta.

Di saat banyak sungai yang mengalir dari arah selatan (Bogor) meluap, aliran air di BKT lancar jaya. Hanya saja di beberapa permukiman dan ruas jalan masih terdapat genangan.

Mungkin hal itu disebabkan drainase dan tali-tali air ke akses BKT tersendat karena kelebihan kapasitas. Hal itu bisa jadi akibat tersumbat sampah atau kurang lebar.
Warga beraktivitas di kawasan permukiman penduduk yang tergenang banjir, di Kampung Petukangan, Cakung, Jakarta, Sabtu (8/2/2020).

Sedangkan harapan penyelesaian luapan Ciliwung–yang selama ini dituding sebagai penyebab utama banjir di Jakarta–diyakini banyak pihak akan bisa terwujud bila ada sodetan dari Kampung Pulo/Bidaracina ke BKT. Sudah cukup lama gagasan itu digaungkan dan sedang dalam proses pembangunan.

Banjir merupakan persoalan krusial dan akut yang masih harus diselesaikan oleh pemerintah. Persoalan lain seperti upaya mengatasi kemacetan perlahan-lahan mulai bisa dirasakan dampaknya oleh masyarakat.

Begitu juga dengan penanganan polusi udara yang semula menempatkan Jakarta sebagai salah satu kota besar dengan predikat terburuk kualitas udaranya di dunia, mulai bisa dilihat perkembangannya. Namun warga masih menunggu upaya yang lebih optimal dalam penanganan banjir. (Ant)